← Kembali ke Ruang Belajar

Membuat puisi untuk pemula

Tentu. Kalau baru mulai, jangan langsung memikirkan rima yang rumit atau bahasa yang terlalu puitis. Puisi pada dasarnya adalah perasaan, pikiran, atau cerita yang dipadatkan menjadi kata-kata yang kuat. Tutorial Membuat Puisi untuk Pemula 1. Tentukan tema Mulailah dari satu hal sederhana yang ingin kamu ceritakan. Contohnya: cinta keluarga hujan sekolah kehidupan kemiskinan politik persahabatan kehilangan impian Misalnya kita memilih tema: “Kehidupan orang yang sedang kesulitan ekonomi.” Jangan langsung menulis puisi. Tentukan dulu apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan. --- 2. Tentukan perasaan utama Tanyakan pada diri sendiri: “Aku ingin pembaca merasakan apa?” Misalnya: sedih marah kecewa bahagia rindu takut semangat prihatin Contoh: > Tema: kehidupan ekonomi Perasaan: kecewa tetapi tetap bertahan. Ini akan membuat puisimu lebih terarah. --- 3. Kumpulkan kata-kata yang berhubungan Sebelum membuat bait, tuliskan beberapa kata. Misalnya tema ekonomi sulit: > dompet beras gaji cicilan pasar keringat lapar harga warung tanggal tua pekerjaan harapan Belum perlu menjadi puisi. Anggap saja ini seperti bahan-bahan sebelum memasak. --- 4. Cari gambaran yang bisa dilihat pembaca Puisi akan terasa lebih hidup kalau tidak hanya berkata: > Aku sedang kesulitan. Coba gambarkan situasinya. Misalnya: > Dompet tinggal menyimpan struk belanja. Atau: > Beras di dapur tinggal segenggam. Atau: > Gaji baru datang pagi tadi, sore sudah berpamitan kepada cicilan. Pembaca jadi bisa membayangkan keadaan tersebut. --- 5. Gunakan perbandingan sederhana Dalam puisi, benda bisa dibuat seperti manusia. Contoh biasa: > Harga makanan semakin mahal. Dibuat lebih puitis: > Harga-harga berlari naik, sementara gaji masih berjalan kaki. Ini menggunakan perbandingan. Contoh lain: > Cicilan mengetuk pintu setiap bulan. Padahal cicilan tentu tidak benar-benar mengetuk pintu. Tetapi kalimat tersebut membuat puisinya lebih hidup. --- 6. Mulai membuat bait Satu bait bisa terdiri dari 2–5 baris. Contoh: > Pagi datang membawa daftar kebutuhan, beras, minyak, listrik, dan tagihan. Dompet kubuka perlahan, isinya seperti sedang belajar menghilang. Tidak harus langsung sempurna. Tuliskan dulu idenya. --- 7. Jangan memaksakan rima Pemula sering merasa setiap kalimat harus berakhiran sama. Misalnya: > Aku pergi ke pasar, melihat harga membuat gusar, hidup terasa berputar, kepalaku hampir terbakar. Ini boleh. Tetapi puisi tidak wajib berima. Contohnya juga bisa: > Aku berdiri di depan rak beras. Tanganku mengambil satu bungkus, lalu mengembalikannya. Hari ini ternyata aku harus memilih antara makan enak atau membayar listrik. Tidak banyak rima, tetapi tetap bisa menjadi puisi. --- 8. Gunakan teknik “jangan bilang, tunjukkan” Ini salah satu teknik paling berguna. Daripada menulis: > Aku sangat sedih. Coba: > Malam itu aku duduk sendiri, membiarkan kopi menjadi dingin tanpa pernah kusentuh. Pembaca akan memahami kesedihannya tanpa kamu harus mengatakan “aku sedih.” Contoh lain. Jangan: > Rakyat sedang kesulitan ekonomi. Coba: > Di pasar, seorang ibu menghitung uang receh dua kali sebelum mengembalikan sebungkus telur. Lebih terasa. --- 9. Buat baris yang paling kuat di akhir Akhir puisi biasanya menjadi bagian yang ingin diingat pembaca. Misalnya: > Katanya kita harus bersabar. Entah sampai kapan. Sebab yang menyuruh kami bersabar tidak pernah ikut mengantre beras murah. Baris terakhir memberikan pukulan yang lebih kuat. --- Rumus paling gampang untuk pemula Kalau masih bingung, gunakan rumus: Tema → Masalah → Gambaran → Perasaan → Penutup Contohnya: Tema: September Masalah: biaya hidup Gambaran: pasar dan dompet Perasaan: kecewa Penutup: sindiran. Hasil sederhananya: > September datang bersama matahari, tapi harga kebutuhan ikut meninggi. Di pasar ibu menghitung uang, satu lembar untuk beras, satu lagi untuk utang. Gaji belum sempat duduk di dompet, tagihan sudah datang menjemput. Katanya negeri sedang tumbuh, mungkin benar— sebab harga-harga tumbuh lebih cepat daripada isi kantongku. --- Latihan paling mudah Cobalah latihan ini. Pilih satu benda di sekitarmu, misalnya: kopi Kemudian jawab 5 pertanyaan: 1. Seperti apa bentuknya? 2. Apa baunya? 3. Apa yang kamu rasakan ketika melihatnya? 4. Kenangan apa yang berhubungan dengannya? 5. Kalau benda itu bisa bicara, apa yang akan dikatakannya? Misalnya: > Secangkir kopi duduk di meja, asapnya perlahan pergi. Aku menunggu seseorang yang katanya hanya terlambat sebentar. Kopiku sudah dingin, kursi di depanku masih kosong. Mungkin beberapa orang memang pandai berjanji, tetapi lupa cara kembali. Dari satu benda sederhana, kita sudah mendapatkan puisi. Untuk pemula, ingat 5 hal Jangan mengejar kata yang terdengar pintar. Pilih kata yang sederhana tetapi terasa. Jangan terlalu menjelaskan. Biarkan pembaca ikut menafsirkan. Gunakan benda atau kejadian nyata. Hujan, jalan, warung, lampu, sepatu, nasi, motor, kamar—semuanya bisa menjadi bahan puisi. Baca puisi dengan suara keras. Kalau terasa aneh saat dibaca, perbaiki ritmenya. Tulis dulu, edit belakangan. Puisi pertama tidak harus bagus. Puisi biasanya menjadi kuat setelah direvisi. Kalau kamu ingin belajar lebih cepat, latihan terbaik selanjutnya adalah membuat 1 puisi bersama-sama dari nol.