Ruang Belajar

Tuntunan dari Admin Fadrodzak

Belajar puisi tingkat menengah

Kalau level pemula fokusnya adalah berani menulis dan membuat gambaran, level menengah mulai masuk ke teknik, lapisan makna, ritme, dan pilihan kata yang lebih sadar. Tutorial Membuat Puisi Level Menengah 1. Jangan hanya memilih tema, pilih sudut pandang Tema yang sama bisa terasa sangat berbeda tergantung siapa yang berbicara. Misalnya tema: kemiskinan Sudut pandang biasa: > Aku hidup dalam kekurangan. Sudut pandang yang lebih menarik: > Aku adalah dompet seorang buruh yang selalu kosong sebelum tanggal tua. Atau: > Aku adalah beras terakhir di sudut dapur seorang ibu. Di level menengah, coba bertanya: “Siapa yang paling menarik untuk menceritakan tema ini?” Bisa berupa: manusia benda tempat waktu kenangan bahkan sesuatu yang abstrak --- 2. Gunakan metafora yang konsisten Jangan sekadar menempelkan banyak perumpamaan. Misalnya kamu memilih metafora utama: Kehidupan = kapal Maka kamu bisa mengembangkan: > Aku berlayar tanpa peta, utang menjadi ombak, kebutuhan menjadi angin, dan gaji hanya perahu kecil yang bocor di tengah perjalanan. Semua gambaran masih berada dalam satu dunia: laut dan kapal. Ini membuat puisi terasa lebih utuh. --- 3. Pelajari simbol Simbol adalah benda yang memiliki makna lebih besar. Contoh: Pintu bisa berarti: kesempatan perpisahan perubahan pilihan Hujan bisa berarti: kesedihan kenangan pembersihan ketenangan Misalnya: > Sejak kau pergi, pintu rumah tak pernah benar-benar tertutup. Secara harfiah bicara pintu. Tetapi bisa juga berarti seseorang masih berharap orang itu kembali. Itulah lapisan makna. --- 4. Hindari kata emosi yang terlalu langsung Pada level pemula: > Aku marah kepada keadaan. Level menengah: > Kuremukkan struk belanja di dalam saku, sementara angka-angka masih menertawakanku. Kata marah tidak muncul. Tetapi emosinya terasa. Prinsipnya: Jangan menyebut emosinya kalau kamu bisa membuat pembaca merasakannya. --- 5. Gunakan enjambment Enjambment adalah memotong kalimat ke baris berikutnya untuk menciptakan tekanan. Contoh biasa: > Aku menunggumu sepanjang malam tetapi kau tidak pernah datang. Dengan enjambment: > Aku menunggumu sepanjang malam, tetapi kau tidak pernah datang. Atau: > Aku pikir kau akan kembali malam itu. Ternyata yang pulang hanya hujan. Pemotongan baris membantu mengatur cara pembaca berhenti. --- 6. Mainkan panjang-pendek baris Baris panjang terasa seperti seseorang sedang bercerita. Baris pendek bisa terasa seperti pukulan. Contoh: > Kami bekerja dari pagi sampai kota kehilangan matahari, mengejar angka yang terus berubah. Lalu malam datang. Gaji habis. Lagi. Kata “Lagi.” menjadi kuat justru karena sangat pendek. --- 7. Gunakan pengulangan secara sengaja Pengulangan bisa membentuk ritme. Misalnya: > Kami menunggu harga turun. Kami menunggu gaji naik. Kami menunggu janji ditepati. Kami terlalu sering diajari menunggu. Kata “kami menunggu” sengaja diulang. Teknik ini disebut anafora jika pengulangan terjadi di awal baris. --- 8. Bermain dengan kontras Kontras membuat puisi lebih tajam. Contoh: > Gedung-gedung semakin tinggi, tetapi meja makan kami semakin kosong. Atau: > Kota menyala semalaman, sementara kamar kontrakanku mematikan lampu untuk menghemat listrik. Ada pertentangan: kemewahan vs kesulitan. --- 9. Gunakan ironi Ironi sangat bagus untuk puisi kritik sosial. Misalnya: > Negeri ini katanya kaya. Di depan minimarket, seorang anak menghitung koin untuk membeli sebungkus nasi. Atau: > Mereka bilang ekonomi sedang tumbuh. Aku percaya. Harga telur memang tumbuh, harga beras tumbuh, cicilan tumbuh. Hanya gajiku yang tampaknya lupa caranya. Ironi muncul karena ucapan dan kenyataan bertabrakan. --- 10. Gunakan bunyi kata Puisi tidak hanya dibaca dengan mata. Puisi juga didengar. Perhatikan kalimat: > Gerimis menggigil di genting. Ada banyak bunyi g. Atau: > Sunyi menyusuri sela-sela malam. Ada pengulangan bunyi s. Ini disebut aliterasi. Jangan terlalu dipaksakan, tetapi bisa memperkuat suasana. --- 11. Buat perubahan dalam puisi Puisi yang bagus sering memiliki perkembangan. Misalnya: Bait 1: keadaan Bait 2: konflik Bait 3: kesadaran Bait 4: pukulan akhir Contoh: > Pagi-pagi aku menghitung uang yang tersisa dari kemarin. Di pasar, harga-harga seperti sedang berlomba menuju langit. Aku pulang membawa setengah dari apa yang ingin kubeli. Di rumah, anakku bertanya, “Besok kita makan apa?” Aku tersenyum. Kadang orang dewasa menyebut kebingungan sebagai harapan. Ada perjalanan emosi. --- Teknik Level Menengah: Objek sebagai pusat puisi Cobalah memilih satu benda. Misalnya: sepatu buruh Jangan langsung bicara tentang buruh. Bicarakan sepatunya. > Sepatu itu mengenal jalan lebih baik daripada pemiliknya. Setiap pagi ia menginjak debu, setiap malam pulang membawa bau mesin. Solnya mulai terbuka, tetapi belum boleh menyerah. Ada uang sekolah yang harus dibayar bulan depan. Tidak perlu mengatakan: > Buruh itu bekerja keras untuk keluarganya. Pembaca sudah menangkap maksud tersebut. --- Teknik Level Menengah: Makna ganda Misalnya puisi berjudul: “Tanggal Tua” Secara literal berarti akhir bulan. Tetapi bisa menjadi simbol kelelahan. > Kalender belum habis, tetapi dompetku sudah lebih dulu sampai di akhir bulan. Sederhana, tetapi memiliki permainan makna. --- Hindari 4 kesalahan umum level menengah Terlalu banyak kata puitis Contoh: > Dalam senandika nestapa nan lara sukma berkelana di semesta fana. Kedengarannya puitis, tetapi belum tentu kuat. Kadang: > Ayah pulang malam ini dengan seragam basah dan uang yang tidak cukup. jauh lebih kuat. Terlalu banyak metafora Jangan: > Hatiku kapal, pikiranku gunung, cintaku matahari, kesedihanku samudra. Puisi menjadi tidak fokus. Semua baris menjelaskan Berikan ruang bagi pembaca. Misalnya: > Ayah pulang membawa dua bungkus nasi. Kami berempat. Tidak perlu menjelaskan bahwa makanannya kurang. Pembaca akan mengerti. Terlalu mengejar rima Rima bagus jika alami. Jangan mengubah makna hanya supaya ujung katanya sama. --- Rumus puisi level menengah Coba gunakan: Objek → Gambaran → Konflik → Simbol → Perubahan → Pukulan akhir Misalnya tema pekerja dengan gaji kecil: Objek: dompet Gambaran: kosong Konflik: kebutuhan meningkat Simbol: kalender Perubahan: dari humor menjadi getir Ending: ironi Hasil: > Dompet Akhir Bulan Dompetku semakin pandai berpuasa. Setiap tanggal dua puluh, ia mulai mengurangi isi tubuhnya. Dua lembar untuk listrik, tiga lembar untuk kontrakan, sisanya berangkat entah ke mana bersama kebutuhan. Kalender masih menunjukkan sepuluh hari menuju bulan baru. Dompetku menatapku. Aku menatapnya. Rupanya kami sama-sama tidak punya jawaban. --- Latihan level menengah Ambil tema sederhana seperti hujan. Tetapi jangan boleh menggunakan kata: sedih, rindu, cinta, kecewa, bahagia. Kamu harus membuat pembaca mengetahui emosinya hanya melalui gambaran. Contoh: > Hujan turun sejak sore. Kursi di teras masih dua, meskipun sudah berbulan-bulan hanya satu yang digunakan. Aku belum memindahkannya. Barangkali karena beberapa kehilangan membutuhkan waktu sebelum berani disebut kehilangan. Kalau sudah nyaman dengan teknik level menengah ini, tahap berikutnya adalah level lanjut: membuat subteks, metafora bertingkat, ambiguitas, struktur non-linear, permainan diksi, ritme internal, motif berulang, dan ending yang mengubah makna seluruh puisi.

Membuat puisi untuk pemula

Tentu. Kalau baru mulai, jangan langsung memikirkan rima yang rumit atau bahasa yang terlalu puitis. Puisi pada dasarnya adalah perasaan, pikiran, atau cerita yang dipadatkan menjadi kata-kata yang kuat. Tutorial Membuat Puisi untuk Pemula 1. Tentukan tema Mulailah dari satu hal sederhana yang ingin kamu ceritakan. Contohnya: cinta keluarga hujan sekolah kehidupan kemiskinan politik persahabatan kehilangan impian Misalnya kita memilih tema: “Kehidupan orang yang sedang kesulitan ekonomi.” Jangan langsung menulis puisi. Tentukan dulu apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan. --- 2. Tentukan perasaan utama Tanyakan pada diri sendiri: “Aku ingin pembaca merasakan apa?” Misalnya: sedih marah kecewa bahagia rindu takut semangat prihatin Contoh: > Tema: kehidupan ekonomi Perasaan: kecewa tetapi tetap bertahan. Ini akan membuat puisimu lebih terarah. --- 3. Kumpulkan kata-kata yang berhubungan Sebelum membuat bait, tuliskan beberapa kata. Misalnya tema ekonomi sulit: > dompet beras gaji cicilan pasar keringat lapar harga warung tanggal tua pekerjaan harapan Belum perlu menjadi puisi. Anggap saja ini seperti bahan-bahan sebelum memasak. --- 4. Cari gambaran yang bisa dilihat pembaca Puisi akan terasa lebih hidup kalau tidak hanya berkata: > Aku sedang kesulitan. Coba gambarkan situasinya. Misalnya: > Dompet tinggal menyimpan struk belanja. Atau: > Beras di dapur tinggal segenggam. Atau: > Gaji baru datang pagi tadi, sore sudah berpamitan kepada cicilan. Pembaca jadi bisa membayangkan keadaan tersebut. --- 5. Gunakan perbandingan sederhana Dalam puisi, benda bisa dibuat seperti manusia. Contoh biasa: > Harga makanan semakin mahal. Dibuat lebih puitis: > Harga-harga berlari naik, sementara gaji masih berjalan kaki. Ini menggunakan perbandingan. Contoh lain: > Cicilan mengetuk pintu setiap bulan. Padahal cicilan tentu tidak benar-benar mengetuk pintu. Tetapi kalimat tersebut membuat puisinya lebih hidup. --- 6. Mulai membuat bait Satu bait bisa terdiri dari 2–5 baris. Contoh: > Pagi datang membawa daftar kebutuhan, beras, minyak, listrik, dan tagihan. Dompet kubuka perlahan, isinya seperti sedang belajar menghilang. Tidak harus langsung sempurna. Tuliskan dulu idenya. --- 7. Jangan memaksakan rima Pemula sering merasa setiap kalimat harus berakhiran sama. Misalnya: > Aku pergi ke pasar, melihat harga membuat gusar, hidup terasa berputar, kepalaku hampir terbakar. Ini boleh. Tetapi puisi tidak wajib berima. Contohnya juga bisa: > Aku berdiri di depan rak beras. Tanganku mengambil satu bungkus, lalu mengembalikannya. Hari ini ternyata aku harus memilih antara makan enak atau membayar listrik. Tidak banyak rima, tetapi tetap bisa menjadi puisi. --- 8. Gunakan teknik “jangan bilang, tunjukkan” Ini salah satu teknik paling berguna. Daripada menulis: > Aku sangat sedih. Coba: > Malam itu aku duduk sendiri, membiarkan kopi menjadi dingin tanpa pernah kusentuh. Pembaca akan memahami kesedihannya tanpa kamu harus mengatakan “aku sedih.” Contoh lain. Jangan: > Rakyat sedang kesulitan ekonomi. Coba: > Di pasar, seorang ibu menghitung uang receh dua kali sebelum mengembalikan sebungkus telur. Lebih terasa. --- 9. Buat baris yang paling kuat di akhir Akhir puisi biasanya menjadi bagian yang ingin diingat pembaca. Misalnya: > Katanya kita harus bersabar. Entah sampai kapan. Sebab yang menyuruh kami bersabar tidak pernah ikut mengantre beras murah. Baris terakhir memberikan pukulan yang lebih kuat. --- Rumus paling gampang untuk pemula Kalau masih bingung, gunakan rumus: Tema → Masalah → Gambaran → Perasaan → Penutup Contohnya: Tema: September Masalah: biaya hidup Gambaran: pasar dan dompet Perasaan: kecewa Penutup: sindiran. Hasil sederhananya: > September datang bersama matahari, tapi harga kebutuhan ikut meninggi. Di pasar ibu menghitung uang, satu lembar untuk beras, satu lagi untuk utang. Gaji belum sempat duduk di dompet, tagihan sudah datang menjemput. Katanya negeri sedang tumbuh, mungkin benar— sebab harga-harga tumbuh lebih cepat daripada isi kantongku. --- Latihan paling mudah Cobalah latihan ini. Pilih satu benda di sekitarmu, misalnya: kopi Kemudian jawab 5 pertanyaan: 1. Seperti apa bentuknya? 2. Apa baunya? 3. Apa yang kamu rasakan ketika melihatnya? 4. Kenangan apa yang berhubungan dengannya? 5. Kalau benda itu bisa bicara, apa yang akan dikatakannya? Misalnya: > Secangkir kopi duduk di meja, asapnya perlahan pergi. Aku menunggu seseorang yang katanya hanya terlambat sebentar. Kopiku sudah dingin, kursi di depanku masih kosong. Mungkin beberapa orang memang pandai berjanji, tetapi lupa cara kembali. Dari satu benda sederhana, kita sudah mendapatkan puisi. Untuk pemula, ingat 5 hal Jangan mengejar kata yang terdengar pintar. Pilih kata yang sederhana tetapi terasa. Jangan terlalu menjelaskan. Biarkan pembaca ikut menafsirkan. Gunakan benda atau kejadian nyata. Hujan, jalan, warung, lampu, sepatu, nasi, motor, kamar—semuanya bisa menjadi bahan puisi. Baca puisi dengan suara keras. Kalau terasa aneh saat dibaca, perbaiki ritmenya. Tulis dulu, edit belakangan. Puisi pertama tidak harus bagus. Puisi biasanya menjadi kuat setelah direvisi. Kalau kamu ingin belajar lebih cepat, latihan terbaik selanjutnya adalah membuat 1 puisi bersama-sama dari nol.